Serial KH. Noer Alie - Pahlawan Nasional dari Tanah Betawi (Bagian III) | Oleh Ali Anwar


Muslim Nasionalis

Semangat juang di buktikan Noer Alie dalam banyak peran dan peristiwa. Selain pandai, cerdas, rajin dan tekun, Noer Alie juga memiliki semangat yang kuat untuk menuntut ilmu, meski harus nyantri ke tempat yang jauh dari kampung halamannya. Noer Alie mondok pada Guru Marzuki di Kampung Muara, Klender, Meester Cornelis. Guru Marzuki mengajarkan kitab Islam klasik (kitab kuning) sebagai inti pendidikannya. Sang guru juga mengajarkan Noer Alie cara menunggang kuda dan berburu bajing, hewan pemakan buah kelapa yang dianggap sebagai hama tanaman. Hikmahnya, Noer Alie menjadi santri teliti, jeli, ce-katan, tekun, berani dan tepat mengambil keputusan.

Pada 1934 Noer Alie menuntut ilmu ke kota Makkah, Saudi Arabia. Selain mengaji di Madrasah Darul Ulum, Noer Alie juga menuntut ilmu dengan sejumlah syeikh atau ulama besar yang tersebar di lingkungan Masjidil Haram. Disana Noer Alie belajar ilmu hadits pada Syeikh ali Al-Maliki. Dari Syeikh Umar Hamdan belajar kutubu sittah atau hadits yang diriwayatkan enam perawi: Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’I, dan Ibnu Majah.

Syeikh Ahmad Fatoni mengajarkan ilmu fiqih dengan kitab iqna sebagai acuannya. Melalui Syeikh Muhammad Amin Al-Quthbi, Noer Alie memperoleh ilmu nahwu, qawafi (sastra), dan badi’ (mengarang), tauhid dan mantiq (ilmu logika yang mengandung falsafah Yunani) dengan kitab Asmuni sebagai acuannya.

Syeikh Abdul Zalil mengajarkan ilmu politik. Sedangkan Syeikh Umar Atturki dan Syeikh Ibnu Arabi mengajarkan ilmu hadits dan ulumul Qur’an. Setiap ungkapan dan perintah syeikh selalu disimak dan dilaksanakan. Sehingga Noer Alie bukan saja mampu menghafal pelajaran, tetapi juga mendapat barokat-ul-ilmu (berkah ilmu).

Di negeri rantau itu Noer Alie yang mudah bergaul memiliki banyak teman, terutama pelajar Betawi seperti Ali Syibromalisi, Hasbullah, Hasan Basri, Tohir Rohili, Mukhtar, Ahmad Djunaidi, Ahmad Arif Ismail, ASbdul Hamid, Abdul Hajar Maliki, Abdul Syakur Khoiri, dan Masturo. Dia juga menjalin hubungan dengan para pelajar dari berbagai negara lain, termasuk Muhammad Abdul Muniam Inada, pelajar Islam dari Jepang.

Melalui surat kabar yang terbit di Saudi Arabia dan Hindia Belanda, Noer Alie dapat mengetahui situasi dan kondisi dunia dan tanah airnya. Sejak 1936 Noer Alie mendapat informasi bahwa perjuangan kaum pergerakan di negerinya dibatasi, bahkan beberapa dibubarkan. Sedangkan petisiyang diajukan Soetardjo ditolak pemerintah Hindia Belanda. Semangat kebangsaan ini merambas ke dalm sanubari Noer Alie dan kawan-kawannya di Makkah.

Fondasi yang terpola di masa pertumbuhan itu, membuat Noer Alie muda matang dalam berpikir dan bertindak. Jadilah Noer Alie sebagai pemuda muslim yang nasionalis. Selain sebagai Ketua Persatuan Pelajar Betawi (PPB) Almanhajul Khoiri, Noer Alie juga aktif dalam Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Persatuan Talabah Indonesia (Perindo), dan Perhimpunan Pelajar Indonesia Melayu (Perindom).

Beberapa kegiatan diselenggarakan PPB, seperti unjuk rasa pembatalan penarikan pajak oleh Pemerintah Saudi Arabia terhadap pelajar asing. Pada 1939 kaum pergerakan melakukan rapat akbar di Jabal Qubis sebagai protes atas pembatasan gerak kaum pergerakan Indonesia. Beberapa tokohnya ditangkap aparat keamanan Saudi Arabia, diantaranya Imron Rosjadi, Abdul Zalil, Hasan Basri, dan Noer Alie. Imron Rosjadi dan Abdul Zalil dikenakan hukuman pukul rotan. Sedangkan Noer Alie dan Hasan Basri sebagai saksi dan dilepas.

Ketika suasana mendekati Perang Dunia II di akhir 1939 Noer Alie yang memiliki cukup ilmu memutuskan kembali ke tanah air. Syeikh Ali Al-Maliki yang mengetahui potensi keulamaan Noer Alie, berpesan di akhir pertemuan. “Ingat, jika bekerja jangan jadi penghulu (pegawai pemerintah). Kalau kamu mau mengajar, saya akan ridho dunia-akhirat. (KH-NoerAlie.info)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Serial KH. Noer Alie - Pahlawan Nasional dari Tanah Betawi (Bagian III) | Oleh Ali Anwar"

Posting Komentar