[Opini] PILKADA 2017 DI TANAH BETAWI | Oleh Ramdansyah

GoBetawi.com - Sepak terjang Basuki Tjahja Poernama alias Ahok  kembali menonjol ketika  hendak mencalonkan diri kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta. Keberadaan Ahok menyita perhatian media dan khalayak ramai. Sebagai petahana, ia punya segalanya untuk eksis di ruang-ruang publik. Simpati, dukungan, tetapi ada juga arus penolakan berbagai kalangan atas pencalonannya. Hari ini publik menempatkan Gubernur DKI  sebagai figur sentral, jadilah Pilkada di tanah Betawi ini identik sebagai fenomena Ahok.

Sebenarnya, Ahok belum terlalu menyulut kontraversi di ruang publik ketika mendampingi Jokowi sebagai wakil gubernur DKI Jakarta. Namun sejak menjadi gubernur, ia berkali-kali mencuri perhatian karena gaya bicaranya yang spontan, blak-blakan, keras, bahkan dianggap kasar dan kotor. Dalam waktu tidak terlalu lama Ahok adalah fenomena kontraversi setahun menjelang Pilkada DKI .

Tampil sebagai sosok pemimpin fenomenal, Ahok semakin percaya diri dan berani berhadapan dengan siapa pun tak terkecuali tokoh seperti Prabowo Subianto yang memberinya kereta kencana atau Megawati sekali pun. Sparring partner politiknya selama ini semisal H. Lulung dan Muhammad Taufik di DPRD DKI, terlihat sukses dilangkahinya. Percaya diri yang kian tebal, mengantarkannya berani menolak dan menantang seluruh partai politik dengan mendeklarasikan diri sebagai calon independen. Ia lebih tertarik menggandeng “teman ahok” untuk mengusungnya.

Gaya komunikasi politik Ahok sangat khas, spontan tanpa tedeng aling-aling. Pada sisi pendukung, inilah pesona Ahok yang utama. Namun, gaya komunikasi politik Basuki Tjahja Poernama sepintas lalu tidak berbeda dengan latar budaya komunikasi penduduk asli Jakarta yakni Betawi. Komunikasi gaya Betawi oleh Engkong, Encang, Enyak, Babe biasanya membangun komunikasi dengan hal yang ringan, mudah dicerna dan cenderung blak-blakan. Dialog menjadi mudah dan nyambung melalui sesuatu yang ringan dan terus terang. Akan tetapi bicara blak-blakan etnis Betawi lebih pada wilayah privat, bukan di wilayah publik. Di wilayah publik orang-orang tua kita tidak melemparkan tuduhan dan kesalahan orang lain begitu saja. Sikap ini merupakan cara komunikasi orang Betawi yang jujur, terbuka, tapi penuh tanggung jawab. 

Sebetulnya, komunikasi dua arah dapat terbangun apabila masing-masing lawan bicara secara enteng menyampaikan maksud dan tujuan. Sesuatu yang ringan disampaikan, maka akan mudah untuk mencapai kesepakatan. Saking mudahnya membuat kesepakatan, acapkali orang Betawi dikenal sebagai orang yang paling toleran dalam menghadapi banyak realitas sosial.

Gaya Betawi
 
Bahasa Betawi bersifat lugas tapi santun. Komunikasi santai tapi menjaga etika gaya nyak babe sangat pas dengan komunikasi modern. Media komunikasi era modern seperti facebook, twiter, instagram dan lainnya selalu menampilkan percakapan santai apa adanya. Seorang facebooker–misalnya- biasanya meng-update status yang ringan dan dapat dilihat oleh semua teman. Demikian pula pengguna twitter cukup men-twit kalimat yang sederhana dan mudah ditangkap maknanya oleh semua follower-nya. 

Sebaliknya, komunikasi gaya Ahok ada yang menganggap sebagai penyakit endemik di DKI. Menular ke  tokoh-tokoh kunci dan jejaring sosial. Akhirnya pada hari-hari ini di tanah Betawi kita dipertontonkan berbagai komunikasi yang berat dan terkadang sarat caci maki. Apakah ini komunikasi  ala Betawi ketika semua umpatan muncul di ruang-ruang publik dan panggung-panggung politik?

Ini tentu bukan gaya komunikasi ala Betawi. Sidang-sidang di DPRD DKI atau pertemuan resmi antara Eksekutif dan Legislatif di Kebon Sirih menampilkan suasana yang tidak nyambung dengan batin dan perasaan orang Betawi. Di kala orang sibuk dengan omongan ringan dan mudah untuk menyampaikan pesan di pelosok-pelosok kampung di Jakarta, tetapi di pusat kota pembahasan soal Jakarta bagaikan ring tinju. Nyaris baku hantam dan baku pukul.  Seharusnya semangat warga Jakarta dengan komunikasi lugas, santun dan santai menjadi cermin bagi elit politik di tanah Betawi ini. Mirisnya, hal itu terjadi di tengah semaraknya komunikasi ringan ala Betawi yang menjadi tren komunikasi global dan di tanah air.

Komunikasi menurut termin ilmu komunikasi adalah percakapan dua arah mengenai suatu persoalan. Dalam termin ilmu politik komunikasi ia dapat menjadi komunikasi politik yang juga mengedepankan tujuan politik, tetapi dengan partisipasi keterlibatan dua arah. Komunikasi di ruang publik tentunya akan berbeda dengan ruang privat. Ruang privat biasanya lebih santai dengan celetukan-celetukan yang lebih familiar seperti bertutur gaya elu-gue, elu-gue. Sebaliknya di ruang publik, bahasa formal dan santunlah yang menjadi cara berkomunikasi.

Donald Trump kandidat calon  Presiden AS menggunakan isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) dalam Pemilihan Presiden AS tahun 2016, karena isu ini yang paling mudah untuk menarik perhatian pemilih. Pilkada DKI tahun 2012 isu SARA menjadi bagian kampanye terselubung di media sosial. Tren ini dipastikan akan berlanjut lagi pada Pilkada DKI tahun 2017, karena pemanasan terhadap isu ini masih terus berlangsung hingga sekarang ini. 

Pilkada merupakan ruang publik. Kampanye dan ucapan kandidat pasangan calon harus memperhatikan keberadaan pasal-pasal larangan untuk bicara menyinggung unsur Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan seperti tertuang dalam UU No.08 tahun 2015 tentang Pilkada dan Peraturan KPU No. 07 tahun 2015 tentang Kampanye Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota. Bahkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengatur larangan caci maki di ruang publik seperti tertuang dalam Peraturan KPI No. 01/P/KPI/03/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Peraturan KPI No.02/P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran yang menyatakan program siaran tunduk pada peraturan dan kebijakan teknis tentang Pemilu/Pilkada.
Ada anggapan bahwa sebelum masuk  masa kampanye, maka isu SARA dapat dijual dan kemudian akan berhenti ketika masa kampanye. Jika pandangan ini yang menjadi arus utama dari tim pemenangan, maka dikhawatirkan Pilkada DKI 2017 tidak terwujud, karena sudah muncul konflik horisontal di Ibukota.

Kembali Ke Betawi

Orang Betawi tahu bagaimana menempatkan diri, kapan bicara di ruang publik dan di ruang privat. Karena itu di tanah Betawi ini semua etnis dapat tinggal dan berbaur. Warga Betawi boleh bangga. Nenek moyang orang betawi rajin mengaji, pergi haji, tapi tidak korupsi. Mereka juga bertutur bahasa sangat hati-hati. Etika sebagai orang Betawi seperti dicontohkan dalam film atau sinetron Si Doel Anak Sekolahan tentunya menjadi pelajaran buat para elit. Mereka tidak kasar,  tidak korupsi dan rajin mengaji. 

Hari ini terjadi distorsi makna di ruang publik. “Lebih baik bicara kotor daripada jadi koruptor”. Padahal engkong, encang, enyak, babe  tidak bicara kotor dan juga tidak menjadi koruptor. Saya khawatir publik digiring kepada pemahaman bahwa orang yang rajin mengaji, bertutur bahasa ramah adalah koruptor. Kesimpulan itu dibangun berdasarkan premis mayor bahwa setiap orang yang bertutur kotor bukanlah koruptor. Ironis dengan premis-premis tersebut, jika si pulan misalnya bertutur tidak kotor tapi bisa disimpulkan dia adalah koruptor. 

Pilkada DKI 2017 patut dibekali semangat “Kembali ke Betawi”. Semangat yang berintikan kedamaian dan ketentraman, sehingga banyak orang  senang  tinggal di Jakarta, karena minimnya kerusuhan sosial antar etnis. Variabel budaya Betawi inilah yang menjadikan pendatang betah dan terus membangun kekerabatan dengan warga Betawi yang sudah datang sebelumnya. Variabel itu adalah sikap toleran dari orang Betawi.
Selain itu, Kembali ke Betawi berarti kita kembali kepada nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Tujuan untuk mensejahterakan warga Jakarta, tidak boleh melupakan cara untuk mencapai kesejahteraan. Berkomunikasilah dengan santun terutama di ruang publik, karena hal itu diajarkan oleh orang-orang tua kita.  Mereka yang berkomunikasi dengan baik tentunya tidak akan marah ketika ditegur karena itu adalah bagian dari komunikasi dua arah. 

Dengan pendekatan kembali ke Betawi, setiap orang tidak dengan mudah melabeli orang lain. Demikian juga orang yang marah-marah tidak mudah dicap bahwa ia seorang koruptor, dan begitu sebaliknya buat yang berbicara dengan santun. Seperti si Doel yang rajin mengaji, pergi haji dan juga tidak korupsi. 

Menyambut Pilkada DKI, mari kembalilah ke Betawi dalam cara berpikir, bersikap dan berkomunikasi! Jangan jual isu SARA di area publik.

Oleh : Ramdansyah (Ketua Panwaslu DKI 2009 & -2012)


Klik Download Untuk Aplikasi Android GoBETAWI.com

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "[Opini] PILKADA 2017 DI TANAH BETAWI | Oleh Ramdansyah"

  1. Mohon maaf - saya tidak terlibat atau ingin mihak - saya cuma ingin bertanya tentang kalimat,emahaman bahwa orang yang rajin mengaji, bertutur bahasa ramah adalah koruptor.
    Apakah gubernur Ahok pernah mengatakan hal itu ?
    Terima kasih, semoga kita semua bisa menjaga budaya kita dan identitas bangsa kita. Amin

    BalasHapus